Para petani Kendeng tinggalkan keluarga demi aksi cor kaki di Istana

PERISTIWA

Podomoro.co.id – Syair berjudul ‘ibu bumi’ ini adalah semacam gambaran dari kelestarian pegunungan Kendeng, Rembang dan Pati, Jawa Tengah. Kini, kelestarian pegunungan Kendeng mulai digempur PT. Semen Indonesia yang izin lingkungannya diteken Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Senin (13/3), puluhan petani dari lereng pegunungan Kendeng turun gunung dan mengecor kakinya dengan semen di depan Istana Negara. Aksi mengecor kaki dengan semen ini merupakan aksi jilid II.

Dalam kesehariannya selama aksi mengecor kaki ini berlangsung, mereka menjalankan aktivitas dengan bantuan alat pembawa barang berupa troli. Kaki mereka yang berat karena di cor semen, dibantu beberapa kawan dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, diangkat dan dinaikkan untuk memudahkan mereka berjalan ke kamar tidur maupun kamar mandi.

Setiap hari sejak aksi berlangsung, sekira pukul 20.00 WIB para peserta aksi kembali pulang ke LBH setelah menjalankan aksinya di depan Istana Negara. Peserta aksi diangkut menggunakan mobil bak terbuka yang sudah dilengkapi dengan kursi untuk memudahkan dalam mengangkut.

Sudiri (51), bercerita jika aksi yang ia lakukan sepenuhnya didukung anak dan istrinya. Sudiri membuka percakapan dengan tersenyum ramah sambil mengatakan, jika tanahnya terletak sangat dekat dengan lokasi pabrik dan dirinya tidak terima jika dibangun pabrik semen di lingkungannya.

“Tanah saya pas dekat sama pabrik semen sekitar 500 meter,” papar pria bertubuh kurus dengan kulit sawo matang ini yang jadi salah satu peserta aksi sembari beristirahat di LBH Jakarta selepas aksi.

Sudiri berangkat ke Jakarta berbekal dukungan dari keluarga untuk ikut berjuang dalam mempertahankan kelestarian pegunungan Kendeng. Sudiri mengaku tidak terlalu merasa rindu rumah, yang ada dibenaknya kini hanya memperjuangan kelestarian tanah kelahirannya.

“Saya nggak kangen rumah karena memperjuangkan lahan pertanian,” imbuh ayah beranak dua ini.

Peserta lain Warsiti (35), perempuan asli Rembang yang kini tinggal di Kudus turut andil dalam aksi ini. Warsiti diantar langsung oleh suami dari Kudus untuk ikut memperjuangkan lahan pertanian di pegunungan Kendeng bersama peserta lain.

Sembari duduk bersandar dan meminum segelas teh hangat, Warsiti bercerita jika dirinya juga turut aksi dari sebelumnya yaitu aksi payung yang digelar di Semarang, Jawa Tengah menuntut gubernur mematuhi putusan pengadilan yang dimenangkan petani Kendeng.

Muslikhah (30) yang merupakan adik dari Warsiti turut gabung dalam aksi. Sambil sesekali memijat kakinya yang terasa pegal, Muslikhah bercerita jika dirinya meninggalkan kedua anaknya serta suami demi ikut aksi ini.

“Saya ninggalin anak di rumah. Anak saya dua, 11 tahun sama 5 tahun di urus bapak sama simbah (eyang). Tujuannya aksi sampai bapak Jokowi nemui. Masih sering telfonan sama anak. Bapak enggak ke sini ada kerjaan di sawah,” tutur Muslikhah.

Setiap hari paserta yang bergabung dan mengecor kakinya terus bertambah. Kini ada sekitar 60 orang yang bergabung memberi dukungan dengan ikut mengecor kakinya.

“Keluarga semua dukung aksi. Dulur yang ke sini semua ikut di cor kakinya tiap hari nambah,” cerita Muslikhah warga Kendeng, desa Galiran kecamatan Sukolilo.

Muslikhah meminta doa restu agar aksinya ini membuahkan hasil sesuai yang diharapkan. “Nyuwun pujine mugo-mugo berhasil (mohon doanya semoga berhasil),” tutup Muslikhah

Pukul 21.30 WIB peserta aksi perempuan mulai diangkut menuju kamar untuk beristirahat. Sedangkan peserta laki-laki tidur di luar beralaskan kasur lantai. Esok aksi akan digelar kembali sampai presiden Jokowi bersedia menemui masa aksi.

Tags:
author

Author: 

Related Posts